Home / PARIGI / Longsor Lereng Kebun Kopi Murni Force Majeure Atau Kelalaian Kontraktor?

Longsor Lereng Kebun Kopi Murni Force Majeure Atau Kelalaian Kontraktor?

Parimo.Logisnews.net-Terjadi longsor dibeberapa titik lereng Gunung ruas jalan Tawaeli-Toboli dalam 2 minggu belakangan ini. Akibatnya arus lalulintas sempat mengalami gangguan. Longsong dengan material tanah dan bebatuan menimbun Drainase dan badan jalan dibeberapa titik ruas jalan, khususnya di Kilometer 48-49 arah dari Palu yang penanganannya baru saja selesai dikerja pada Tahun Anggaran 2019/2020.
Longsornya lereng gunung Kebun Kopi membuat tanda tanya besar bagi sejumlah masyarakat pengguna jalan dan LSM Pemerhati Jasa Konstruksi serta Aktifis Anti KKN di Sulawesi Tengah. Pasalnya proyek ruas Kebun Kopi yang disebutnya sebagai Proyek Abadi Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sulteng, khusus PPK 2.3, tidak henti-hentinya bermasalah akibat longsor. Hal itu mengakibatnya hampir setiap tahunnya Negara mengalokasikan anggaran ratusan milyar rupiah untuk penanganan pemeliharaan dan Pelebaran serta peningkatan.

Korwil LSM Nusantara Corruption Watch (NCW) Sulteng Anwar Hakim SH menilai kegiatan penanganan lereng di ruas Tawaeli-Toboli yang meliputi jalur Kebun Kopi menjadi proyek Abadi BPJN Sulteng. Sementara hasil dari proyek penanganan lereng kurang maksimal, sebab setiap saat, apalagi jika cuaca hujan deras maka terjadi longsor yang menutupi drainase dan badan jalan.”Sepanjang ruas Kebun Kopi terdapat beberapa metode penanganan leteng, tapi sayangnya tidak satupun metode yang duterapkan mampu menahan longsor,” ujar Anwar.
Anwar menduga ada yang salah dalam pekerjaan penangaan lereng Kebun Kopi. Apakah perencanaan yang kurang tepat atau pekerjaan yang tidak mengikuti RAB. Sebab pemasangan asesoris Kawat dan media tanam ternyata tidak mampu membendung longsor. Sehingga Asesoris hanya menjadi beban anggaran dalam pekerjaan.
“Nilai accesoris atau media tanam sangat besar, sementara manfaatnya belum maksimal dirasakan masyarakat,”tandas Anwar.


Demikian pula Tanggapan Egar Mahesa SH selaku Presiden Eksekutif Lembaga Pemerhati Khusus Nasional-Republik Indonesia (LPKN-RI). Egar menilai ruas Kebun Kopi terbilang peket ekstrim. Sehingga penanganannya harus menggunakan tehnologi jasa konstruksi tingkat tinggi. Bukan sekedar dijadikan kelinci percobaan penanganan lereng.
Kerusakan yang terus terjadi tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab selain sudah menyebabkan kerugian negara juga azas manfaatnya tidak maksimal. Itulah sebabnya LPKN-RI telah berkoordinasi dengan Rekan-rekan mantan Pejabat PU Dan Perumahan RI yang akan turun ke Kebun Kopi membantu LPKN-RI melakukan analisa dan pelaporan ke KPK atas dugaan kerugian di Proyek Kebun Kopi dari Media 2014-2019.”Ada tim kita yang akan turun ke Kebun Kopi usai lebaran idul adha 2020,”ungkap Egar.
PPK 2.3 PJN 2 Ir Julian Situmorang yang dikonfirmasi via Watshaap dinomor 01385252xxx belum memberikan jawaban atas konfirmasi media ini.
Demikian pula Kepala Satker PJN 2 Amin Hamid dan Kepala BPJN Sulteng Muhammah Syukur, ST. MT yang dikonfirmasi di nomor HP yang berbeda belum memberikan keterangan hingga berita ini ditayangkan.

Penulis : Burhan Jawachir/Logisnews

About logisnews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *